Dua Penderita Leptospirosis di Demak Meninggal

oleh -11 views

DEMAK, topdetiknews.com – Hampir di setiap tahun terdapat warga Kabupaten Demak yang meninggal dunia lantaran terkena penyakit leptospirosis. Penyakit zoonosis yang disebabkan oleh infeksi bakteri leptospira tersebut biasanya meningkat pada musim penghujan, sekitar Januari hingga Maret.

Meski penyakit tersebut dapat disembuhkan, namun menjadi ancaman serius karena bisa menelan korban jiwa jika penderita terlambat mendapatkan pertolongan medis.

Di RSUD Sunan Kalijaga, Demak, pada bulan Januari 2020, terdapat 10 pasien yang menderita leptospirosis. Dua pasien meninggal dunia.

“Para pasien yang tidak tertolong itu lantaran saat dibawa ke rumah sakit kondisinya sudah kritis, bakteri telah menyerang ginjal dan mengakibatkan gagal ginjal,” terang Humas RSUD Sunan Kalijaga, Kusmanto.

Dikatakan, tahun 2019 RSUD Sunan Kalijaga menangani sebanyak 69 pasien, sebagian besar sembuh, namun terdapat 15 pasien yang tak terselamatkan. Pasien yang meninggal dikarenakan baru dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis atau gagal ginjal akut.

Menurut Kusmanto, seluruh tenaga medis di RSUD Sunan Kalijaga memiliki pengetahuan dan kesigapan terhadat penanganan penyakit tersebut. Karena itu setiap ada pasien yang datang dengan gejala mengarah pada leptospirosis, langsung dilakukan uji laboratorium untuk memastikan jenis penyakitkan.

Sebab, gejala awal ada kemiripan dengan demam berdarah dan tifus. “Secara medis, penyakit ini sebenarnya mudah untuk disembuhkan selama belum pada tingkat akut menyerang fungsi hati dan ginjal,” tuturnya.

Salah satu dokter, Abdul Rohman menambahkan, di antara ciri-ciri penderita leptospirosis tubuhnya merasakan panas, menggigil, seluruh badan terasa sakit, nyeri di bagian betis, mata kuning kemerahan dan sulit kencing. Penyakit leptospira penularannya melalui kencing tikus, namun bisa bula melalui kucing yang terkena penyakit tersebut.

Baca Juga :  ''Mosok Pak Arief Saya Persilahkan Maju, Terus Saya Musuhi Sendiri ?''

Banyak Tikus

Kebanyakan warga yang terkena penyakit ini berada di daerah perdesaan utamanya para petani, buruh dan nelayan. Sebab, selain di rumah, tikus biasanya berkembang biak di persawahan.

Kalau tikus yang ada bakteri leptospiranya kecing di genangan air, atau mati maka bisa menular kepada manusia. “Penularan akan lebih mudah lagi jika saat menginjak genangan air, ada luka di bagian kaki,” jelasnya. Untuk itu ia menyarankan agar masyatakat membiasakan memakai pelindung kaki ketika berada di lokasi yang terdapat genangan air.

Salah seorang penderita leptospirosis yang masih menjalani perawatan medis di RSUD Sunan Kalijaga, Muhammad Rizki (22) warga Desa Karangsari, Kecamatan Karangtengah mengaku sudah merasakan sakit panas pada badan dan betis kaki sejak tiga hari. Sejak semula ia memiliki perasaan terkena lesptospirosis karena terdapat banyak tikus di rumah dan lingkungan tempat tinggalnya.

“Saya curiga terkena penyakit kencing tikus setelah diberitahu istri adanya penyakit tersebut. Apalagi di rumah juga banyak tikus,” katanya. Kepala Dinas Kesehatan Kabuten Demak, Guvrin Heru Putranto mengatakan, pihaknya selalu melibatkan seluruh tenaga medis baik di rumah sakit, puskesmas, bidan desa maupun perangkat desa dalam melakukan sosialisasi dan pencegahan penyakit leptospirosis.

Di antara pencegahan melalui penebaran kaporit di lingkungan permukiman, dan lokasi yang diduga banyak tikus. Meski penderita leptospirosis dari tahun ke tahun selalu ada, akan tetapi jumlahnya terus menurun. Termasuk angka penderita yang meninggal dunia.

Dia mengimbau kepada warga agar tidak membuang tikus yang mati di jalan atau disembarang tempat. “Jika ada tikus mati, sebaiknya di kubur dalam tanah, jangan dibuang di jalan maupun di sungai,” sarannya. Khusus di desa-desa yang terdapat warga terkena leptospirosis, pihaknya menurunkan tim untuk melakukan tindakan yang diperlukan untuk menekan potensi penyebaran penyakit.

Baca Juga :  Lagi, 3 Santri Yang Mudik ke Blora Positif Hasil Rapid Test

Demak merupakan salah satu kabupaten dengan kasus leptospirosis terbanyak di Jawa Tengah. Data Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, pada tahun lalu, hanya Kabupaten Banyumas yang memiliki jumlah kasus lebih tinggi ketimbang Demak. (Suara Merdeka/red)